THM
Mohon Maaf Lahir dan Batin

image

image

Aku adalah orang yang sering songong, sotoy, yang diam-diam suka mengumpat hal-hal buruk tentang kamu, kamu, dan kamu di dalam hati. Aku adalah orang yang sering berdosa karena kurang rajin menjaga komunikasi dan silaturahmi. Aku adalah orang yang menyebalkan karena sering tiba-tiba melankolis di saat pria-pria lain tidak. Aku adalah yang sering egois. Aku sering merepotkan kamu. Aku sering menyinggung kamu. Aku sering salah bersikap, kadang sengaja, kadang tidak juga. Aku adalah yang berdosa pada kamu, kamu, dan kamu.

Kalau tidak terlalu banyak, aku ingin merepotkan lagi kali ini, kalau boleh. Tolong maafkan aku ya. Atas kesalahan-kesalahan baik yang aku ingat dan aku sebutkan diatas, juga yang tidak. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir batin.

Aku doakan kamu. Iya, kamu. Semoga semua amalnya diterima dan menjadi berkah dalam kehidupan sekarang dan nanti, baik bagi diri sendiri juga bagi orang-orang di dekat kamu. Juga semoga kamu senantiasa didekatkan dengan hal-hal yang dicintai Tuhan dan diajuhkan dari appaun yang dibenci oleh-Nya.

Terima kasih atas tiap waktu yang telah kamu habiskan bersamaku.

Sebisa mungkin ingin kutangkap gelap

Bayang-bayang yang membentuk cahaya

Ingin kubuat ia bosan meratap

Hal-hal yang terpenjara tanda tanya

Akhirnya dalam petak itu pula aku bersandiwara

Biar deru besi beradu dalam tingkahnya

Kutahu peluk tak akan mengisi kantukmu lagi

Namun kau masih terlalu dini untuk hari

Lelaplah untuk sementara

Lelaplah dalam doa

Sebelum nanti kau beranjak berdosa

Titik cahaya kecil jatuh di pelupuk mata

Memenuhi horizon menghilang di titik buta

Aku takut ada yang tak bertaut

Yang tersembunyi dalam kabut

Siluet-siluet yang berpapasan saat berlari

Saat ia mundur menuju pagi

Memeluk kantuk yang telah lelah bersarang

Melahirkan ruang-ruang bagi malam yang panjang

… a female energy in my life. It’s a good energy. When things go wrong, another man can tell you that everything is going to be okay. But not like a woman can
I read it somewhere, and i nodded.
Time Flies

image

image

Time Flies. Yes, it does.

It has been about 6 months since the first time i taught myself to play music with my dearest guitar, Monika. As the time flies, night after night, day by day, by each little steps i spent to fulfill my vigorous curiosity. I inevitably crafted my music skill, along with my writing skill, to produce, certain number of original songs. From a simple yet embarrassing one, to the one that i can’t believe i can made it, and ones that resided between those two kinds.

Even though I feel pleased to went through that certain process. Yet, i feel it’s kinda a shameful experience to share those songs to people. I honestly think that my songs are never good enough. I think them as a half-cooked poor-seasoned food, edible, but kinda lack of something, too much something.

Then here is when quotes from Ralph Waldo Emerson and Henri Matisse came to help. The cumulative understanding on both “every artist was first an amateur” and “creativity takes courage” encouraged me to write this post and share my works. A playlist of my original songs uploaded on soundcloud. I’m not really sure what exactly is my expectation on doing this. I guess i just want to share it, and that is it.

So, yes, time flies. And here what it did to me.

I genuinely wish you could enjoy them as i unconsciously do.

A Trip to Nusa Tenggara

000040

000024

Get away. Sail. Explore. Laugh. Adventure. Whatever the verb. It is a holiday, anyway. Spent about 5 days sailed through Nusa Tenggara, explored islands between Lombok and Labuan Bajo. Trekked around both up and downhill. Duck dived. Tanned. Star gazed. Swung. Jumped. Sang songs. Literally tried to did things to experience the trip to the outmost. This was a trip of the year for me. Komodos, milky way, eruption, volcanic ashes, tea cups, a captain, a writer, unlocked achievements, precious smiles, well, basically all the things that i found hard to be remembered exactly how it was, come together as not more than a beautiful memories. Worth every dimes, every times.

Read More

image

image

image

image

Well, hello.

Been a while since the last time i post something here. Especially, photos. It’s not like i’m bored whatsoever. It just. I’ve been crafting my writing and music skills, too much.

Since it some kind of comeback, i’ll start with something really really really special. Yes, as you saw above, it’s a wedding of a friend. A special one. But maybe not what you define as special.

It was sorta magical how i and she met and progressed. The oddity of two people with the same sparks in their eyes came under one table and met many other folks with same passion then buzzing through things, is just, mesmerizing. I thank God for letting me met her in that certain way.

Sarrah, i may not knowing her for a necessary long time to be called best friend properly like her college friends which i honestly thought they are. But i cant help to not being so emotional. I cant exactly describe how it is, but, in short, i wish she knows how happy i am for her. And her husband, of course. I’m happy for both of you. I wish you have a great life ahead.

Congratulations.

That is it. I have no other words to say.

Tidak perlu keras-keras. Pekikmu hanya sengau buatku. Tidak perlu lekas-lekas. Tunggu saja maut merampok nyawaku.

Apakah yang menghidupi api saat dini hari? Menyala melawan dingin dengan hanya berselimut udara. Kalau aku pasti sudah mati daritadi.

Tidakkah kau belajar darinya?

Seletih-letihnya meraung, knalpot pasti bungkam juga akhirnya.

Sejadi-jadinya memanas, knalpot pasti dingin pula.

Tidakkah kau belajar darinya?

Knalpot yang memaksamu menghirup asapnya dengan suka rela.

Kau pun sama sepertinya.

Muak?

Sebungkus gorengan dan kapal api. Hanya satu cara menunda mati. Bodoh sekali aku berpikir akan abadi.

Apakah aku bisa mengadu pada ampas kopi? Ia tampak diam saja didasar cangkir. Seperti menunggu aku cukup gila untuk mengajaknya bicara. Supaya bisiknya membuatku terjaga.

Seberapa pun ia ingin. Malam tak akan pernah punya cukup kuasa atas angin. Malam hanya bisa menjadi malam. Gelap tanpa salah paham. Terkutuk oleh dingin.

Tidakkah cukup namamu kutulis sebagai spasi diantara kata. Jeda antar alinea. Sebagai ruang kosong yang membentuk setiap hurufnya. Atau kamu lebih memilih menjadi tanda tanya. Karena kamu bisa saja kuakhiri pada retorika, aku cinta?

1 of 31 next